Hold the Door : Karena Game of Thrones Gak Bisa Dibikin Seperti Naruto

Hold the Door

Hold the Door menjadi tanda bahwa Game of Thrones akan tetap menarik walaupun melampaui bukunya

Game of Thrones season 6 episode 5 kali ini berjudul The Door. Sebuah judul sederhana namun ternyata maknanya mendalam. Hal ini terkait dengan adegan paling greget di episode ini -mungkin paling greget seantero season, bahkan bisa jadi untuk keseluruhan episode Game of Thrones.

-SPOILER ALERT, lanjutkan baca jika tidak bermasalah dengan pembahasan plot utama episode ini-

Hold the door!
Hold the door
Hol the door
Holthedoor
Holedoor
Holdor
Hodor
Hodor….

Cuplikan adegan ini maknanya begitu dalam. Sebuah frase “Hold the Door” ternyata adalah awal mula “lahirnya” Hodor. Ironisnya, ini juga menjadi tanda akhir hidup Hodor -sepertinya begitu, rasanya tidak mungkin ia selamat dari amukan White Walker- dan tak pelak ini menjadikan Hodor salah satu karakter -bahkan menjadi yang paling- heroik di Game of Thrones ini.

Namun bukan pembahasan adegan, plot, maupun prediksi Game of Thrones yang akan Penulis bahas di sini. Melainkan penjabaran sudut pandang dari penulis berdasarkan episode-episode yang telah berjalan -khususnya Game of Thrones season 6 episode 5 kali ini-. Karena ini yang membuat Game of Thrones berbeda dari serial TV adaptasi, atau bahkan dibandingkan kartun, yang jalan ceritanya telah melampaui buku novel adaptasinya.

Game of Thrones bukanlah Naruto

Buat yang heran kenapa saya bawa-bawa Naruto di Game of Thrones ini, kurang lebihnya begini.

Game of Thrones bukanlah Naruto. Kita tahu bahwa industri serial TV maupun animasi sangat pesat dan cepat. Tidak aneh ketika sebuah novel seperti A Song of Ice and Fire atau pun manga seperti Naruto diadaptasi menjadi serial TV atau pun animasi, maka yang terjadi adalah versi layar kaca ini justru akan melampaui progres dari versi cetaknya. Karena proses membuat cerita ataupun menggambar komik tidak secepat seperti proses syuting layar kaca ataupun produksi animasi yang melibatkan orang banyak dan teknologi mutakhir, proses kreatif pada novelis atau pun misalnya pada mangaka membutuhkan waktu -dan mood- untuk menghasilkan karya terbaik.

Tak heran jika pada kasus animasi seperti pada Naruto, terjadi pembuatan episode filler. Episode filler adalah rangkaian episode yang tidak terkait dengan plot utama -atau jarang sekali yang bisa terhubung dengan plot utama, walaupun saya tidak pernah melihat contoh kasusnya- yang dibuat sebagai “jeda waktu” antara episode animasi atau TV dengan progres cetaknya. Dalam kasus Naruto ini malah menunjukkan kasus yang ekstrim. Gak nanggung-nanggung, episode filler-nya bisa sepanjang satu tahun sendiri! Itu belum termasuk ratusan episode filler lainya di sepanjang season.

Jangan tanya saya siapa itu di sebelah Naruto, kagak ada di manga nya

Tapi Game of Thrones tidak bisa dibuat episode filler seperti Naruto. The show must go on. Konon rangkaian A Song of Ice and Fire akan terdiri dari 7 buku, namun buku yang terakhir terbit adalah A Dance with Dragons terbit pada 2011 – dan itu sudah 5 tahun yang lalu. Sedangkan buku ke 6,  The Winds of Winter -katanya- masih dalam penulisan, dan entah kapan George R. R. Martin sang penulis A Song of Ice and Fire akan menuntaskan penulisan The Winds of Winter -dan tentunya belum termasuk proses penerbitan bukunya yang juga memakan waktu!

Tentunya ini membuat Game of Thrones tidak mungkin membuat episode filler layaknya Naruto. Apa pemirsa mau menyaksikan 5 tahun episode filler menunggu terbitnya novel selanjutnya? Penulis rasa tidak mungkin. Tentunya aneh jika sutradara Game of Thrones harus mempertahankan karakter dan cerita sembari menunggu penerbitan novel selanjutnya.

Sehingga pilihannya tidak lain adalah melanjutkan ceritanya, terlepas dari bayang-bayang novelnya

Game of Thrones mungkin akan terlepas dari bayang-bayang A Song of Ice and Fire, tapi setidaknya Tormund akan membayang-bayangi Brienne 😆

Dan melihat dari episode The Door ini, Penulis menilai ini berhasil. Setidaknya hingga sekarang.

Greget pada Novel Selanjutnya

Ini adalah salah satu yang Penulis khawatirkan. Frase “Hold the Door” ini konon merupakan ide George. Maka tidak aneh jika adegan ini akan muncul di buku ke-6 The Winds of Winter. Tapi perlukah George memunculkan Hold the Door ini…lagi… pada novel tersebut? Mengingat gregetnya bisa jadi akan berkurang dengan kemunculan Hold the Door di episode The Door tersebut.

Hal ini berbeda dengan salah satu adegan greget lainnya yaitu The Red Wedding. The Red Wedding dimana merupakan pembantaian besar-besaran pihak House of Stark yang dirancang oleh Lord Walder Frey untuk menggagalkan penyatuan House of Stark dan House of Frey. Ketika The Red Wedding muncul di episode The Rains of Castamere , beberapa orang telah tahu akan adanya adegan itu karena tercantum dalam novel. Walaupun beberapa hal yang terjadi di episode ini punya greget yang berbeda dengan novelnya -seperti saya yang masih tetap shock menyaksikan first blood dari eksekusi yang terjadi, karena tidak ada di bukunya.

Mendengar lagu “Rains of Castamere” tidak akan pernah sama sejak peristiwa The Red Wedding

Tentunya patut ditunggu apa yang akan disajikan George dalam novelnya. Apakah Hold the Door kembali hadir? Ataukah ada plot twist yang lebih greget siap mengejutkan pembaca?

Lord of the Rings, The Walking Dead, dan X-Men Days of Future Past

Menyaksikan Game of Thrones episode The Door ini membuat sensasi tersendiri bagi Penulis. Rasanya melihat dasar cerita aksinya mengingatkan pada 3 film dan serial TV terkemuka.

Tentu saja jika berbicara tentang medieval, mahluk mistik, sihir, dan perang ksatria, tidak aneh jika terasa seperti cerita epik Lord of the Rings. Pada dasarnya dunia yang dibuat oleh J.R.R Tolkien biasa dijadikan tolak ukur cerita epik yang ada karena begitu kompleks dan komplitnya pengejewantahan dari Tolkien.Tidak terkecuali nuansa peperangan di Game of Thrones pun jadi terasa se epik Lord of the Rings.

Barangkali Nazgûl adalah kerabat jauh White Walker?

Bahkan pada adegan White Walker memegang tangan Brann, mengingatkan saya ketika Nazgûl menghunuskan pedang ke dada Frodo. Interaksi antar dimensi yang tidak terduga ini yang Penulis rasa kemiripannya.

Sedangkan jika berbicara tentang mayat hidup, The Walking Dead menjadi serial TV yang gregetnya paling terasa.Maka ketika Game of Thrones kembali menghadirkan White Walker dengan pasukan wights, nuansa zombie apocalypse pun terasa kental seperti The Walking Dead. Apalagi wights bukan zombie yang pelan namun bisa berlari kencang dan mempunyai nalar dengan intruksi dari  Night King.

Selain itu ketika Bran Stark mengalami vision ke masa lalu ia bisa merasuki Wylis -Hodor di masa kecil- ia menanamkan pesan pada Wylis. Sayangnya ini membuat Wylis ayan dan berteriak-teriak “Hold the Door!”. Inilah yang menjadi asal mula Hodor.

Intervensi Bran ke masa lalu mengingatkan Penulis akan cerita komik X-Men: Days of Future Past. Jika pada versi film layar lebarnya, Kitty Pryde mengendalikan mental seseorang untuk kembali pada pikirannya di masa lalu, yang pada kasus ini adalah Wolverine, dengan harapan mencegah kiamat mutan dan manusia akibat Sentinel yang berevolusi.

Kalau di Game of Thrones ada Stark, di X-Men ada Trask… dan sama-sama ada Peter Dinklage…

Entah apakah Bran bisa kembali memengaruhi masa lalu seperti halnya X-Men: Days of Future Past, namun tentunya ini berpotensi membuat plot cerita yang menarik -atau justru membuat semuanya berantakan-.

Makna Heroisme

Game of Thrones boleh dipenuhi dengan para Ksatria berpedang, Penyihir dengan mantra ajaib, atau bangsawan negosiator ulung dalam menjaga kedamaian. Namun Hodor tampil dari rakyat jelata, tidak punya kemampuan apa pun selain tubuh yang besar dan tenaga yang kuat. Perannya di The Realm ini ternyata bukan hanya mendampingi Bran Stark dalam quest nya mencari three-eyed crow, namun juga melindungi Bran hingga akhir hayatnya.

Perannya di dunia The Realm sangat sederhana: menahan pintu dari serangan White Walker. Namun adegannya terasa tragis dan mengharukan. Pengorbanannya membuat makna tersendiri bagi sikap laki-laki dan nilai kepahlawanan. Hodor, karakter yang tampak cacat mental ini, bahkan punya peran sangat heroik. Sebuah makna yang menarik kembali dihadirkan oleh Game of Thrones.

Sebagai bukti bahwa heroisme Hodor ini memberi kesan yang mendalam, pencarian google atas keyword: Hodor mengalami lonjakan drastis pada bulan Mei 2016 ini.

hodor

Begitu juga dengan term “Hold the Door”

hold the door

Menarik untuk menanti kegregetan -entah apa itu adalah sebuah kata yang lazim atau tidak- dari Game of Thrones episode selanjutnya. Feeling Penulis, sepertinya ini bukan peristiwa tragis terakhir di dunia The Realm

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: